Tragedi Maut di TPST Bantargebang: Gunungan Sampah Longsor Telan Korban Jiwa, Proses Evakuasi Berjalan Dramatis
Hot.co.id, BEKASI — Kesibukan rutinitas di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, mendadak berubah menjadi kepanikan dan duka yang mendalam. Sebuah gunungan sampah yang menjulang puluhan meter secara tiba-tiba mengalami longsor hebat dan menimbun sejumlah pekerja serta pemulung yang sedang mengais rezeki di area bawahnya. Tragedi memilukan ini kembali membuka mata publik mengenai bahaya laten dari kondisi kelebihan kapasitas (overcapacity) yang sudah bertahun-tahun menghantui lokasi pembuangan akhir terbesar di Asia Tenggara tersebut.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun oleh tim Hot.co.id di lapangan hingga hari ini, insiden nahas tersebut telah menelan sedikitnya enam korban jiwa, sementara beberapa orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian. Kejadian bermula ketika curah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Bekasi dan sekitarnya sejak malam sebelumnya. Hujan deras ini diduga kuat meresap ke dalam tumpukan sampah yang sudah padat, membuat struktur gunungan tersebut menjadi gembur, labil, dan kehilangan daya ikatnya.
Menurut kesaksian salah seorang pemulung yang selamat dari maut, terdengar suara gemuruh yang sangat keras sesaat sebelum tebing sampah tersebut runtuh. “Suaranya seperti tanah longsor di pegunungan, gemuruh keras sekali. Tiba-tiba tumpukan dari atas langsung ambrol ke bawah menutupi area tempat teman-teman kami sedang memilah botol plastik. Semua lari berhamburan, tapi yang posisinya persis di bawah tebing tidak sempat menyelamatkan diri,” ungkapnya dengan nada bergetar dan wajah yang masih menyimpan trauma mendalam.
Proses evakuasi segera dilakukan sesaat setelah kejadian. Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi, Basarnas, TNI, Polri, serta relawan kebencanaan langsung diterjunkan ke titik lokasi. Namun, operasi pencarian dan pertolongan (Search and Rescue) ini tidaklah berjalan mudah. Tim gabungan dihadapkan pada kendala medan yang sangat berat dan berbahaya. Material longsoran bukanlah tanah biasa, melainkan tumpukan sampah basah yang sangat tebal, berbau menyengat, dan berpotensi mengeluarkan gas metana beracun yang membahayakan nyawa para petugas penyelamat.
Untuk mempercepat proses pencarian korban yang masih tertimbun, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta selaku pengelola TPST Bantargebang mengerahkan lebih dari sepuluh unit alat berat berupa ekskavator (beko). Alat-alat berat ini bekerja berdampingan dengan anjing pelacak (K9) yang diturunkan oleh pihak kepolisian guna mengendus keberadaan korban di balik tumpukan material sampah setinggi lima hingga delapan meter tersebut.
Tragedi longsor sampah ini kembali menyoroti bom waktu dari krisis pengelolaan sampah di ibu kota dan sekitarnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa TPST Bantargebang telah lama melewati batas kapasitas maksimalnya. Ketinggian tumpukan sampah di beberapa zona bahkan dilaporkan sudah mencapai lebih dari 40 meter, setara dengan gedung bertingkat 15. Meskipun berbagai upaya pengurangan volume dan teknologi pengolahan telah direncanakan, volume sampah harian yang masuk dari Jakarta yang mencapai lebih dari 7.000 ton per hari membuat beban di Bantargebang semakin tak tertahankan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Bekasi langsung mengadakan koordinasi darurat merespons tragedi ini. Zona operasional yang terdampak longsor saat ini ditutup total untuk kepentingan evakuasi dan investigasi lebih lanjut mengenai standar keselamatan di area TPST. Pemerintah juga berjanji akan memberikan santunan dan menanggung seluruh biaya pemakaman bagi keluarga korban yang ditinggalkan, serta biaya perawatan medis bagi korban luka-luka.
Hingga berita ini diturunkan, sirine ambulans masih terus bersahut-sahutan di sekitar kawasan TPST Bantargebang. Operasi pencarian diperkirakan akan terus berlanjut hingga beberapa hari ke depan sampai seluruh korban yang dilaporkan hilang berhasil ditemukan. Tragedi ini menjadi peringatan keras yang harus segera ditindaklanjuti dengan langkah nyata—bukan sekadar solusi jangka pendek, melainkan revolusi sistem pengelolaan sampah yang komprehensif agar kejadian serupa tidak terulang kembali dan mengorbankan nyawa rakyat kecil yang sedang mencari nafkah.

