Hari Terakhir Masa Berkabung Nasional, Bendera Setengah Tiang Berkibar Mengiringi Kepergian Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno
Hot.co.id – Hari ini, Rabu, 4 Maret 2026, menjadi hari penutup dari rangkaian masa Berkabung Nasional yang secara resmi ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia. Selama tiga hari berturut-turut, terhitung sejak tanggal 2 Maret lalu, seluruh penjuru negeri diselimuti suasana duka yang mendalam atas wafatnya salah satu putra terbaik bangsa, Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno. Sebagai bentuk penghormatan kenegaraan tertinggi kepada mendiang, pengibaran bendera Merah Putih setengah tiang tampak menghiasi halaman gedung-gedung pemerintahan, markas komando militer dan kepolisian, instansi pendidikan, hingga perwakilan diplomatik Republik Indonesia yang tersebar di luar negeri.
Instruksi pengibaran bendera setengah tiang ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Sekretaris Negara yang diterbitkan sesaat setelah kabar duka tersebut menyelimuti Tanah Air. Masyarakat umum pun turut serta mengindahkan imbauan ini. Di berbagai sudut kota hingga pelosok desa, warga secara swadaya menurunkan bendera Merah Putih di depan rumah mereka menjadi setengah tiang. Pemandangan ini tidak hanya menjadi simbol kepatuhan pada protokol kenegaraan, tetapi juga cerminan rasa kehilangan yang tulus dari rakyat Indonesia terhadap sosok pemimpin yang dikenal bersahaja, tegas, dan memiliki dedikasi tanpa batas bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Mengenang kembali jejak langkah dan pengabdiannya, Try Sutrisno bukanlah nama sembarangan dalam lembaran sejarah perjalanan bangsa ini. Lahir di Surabaya pada masa pergolakan kemerdekaan, beliau merintis karir dari bawah di dunia kemiliteran hingga mencapai posisi puncak sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada periode 1988 hingga 1993. Di bawah kepemimpinannya, militer Indonesia mengalami berbagai proses konsolidasi yang krusial. Karismanya sebagai prajurit sejati membawanya melangkah ke medan pengabdian sipil ketika Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menetapkannya sebagai Wakil Presiden mendampingi Presiden Soeharto untuk masa bakti 1993-1998. Selama menjabat, beliau dikenal sebagai figur penyeimbang yang setia, menjaga stabilitas nasional dengan ketenangan dan wibawa khas seorang perwira tinggi.
Kepergian tokoh bangsa yang tutup usia di usia senja ini menyisakan duka tidak hanya bagi keluarga besar purnawirawan TNI, tetapi juga bagi para tokoh politik nasional dan masyarakat lintas generasi. Berbagai platform media sosial selama tiga hari terakhir dipenuhi oleh ucapan belasungkawa, untaian doa, serta unggahan arsip foto-foto lawas yang menampilkan momen-momen bersejarah mendiang semasa bertugas. Para pejabat tinggi negara, anggota kabinet, hingga mantan presiden dan wakil presiden tampak silih berganti memberikan penghormatan terakhir di Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan, tempat di mana jasad sang Jenderal disemayamkan dengan upacara kebesaran militer.
Bagi generasi muda, momentum wafatnya Try Sutrisno menjadi pengingat sejarah tentang pentingnya nilai-nilai patriotisme, kesederhanaan, dan pengabdian tanpa pamrih kepada negara. Meski raganya kini telah menyatu dengan bumi pertiwi, warisan keteladanan yang ditinggalkannya akan terus abadi. Pemerintah berharap, masa berkabung selama tiga hari ini cukup untuk memberikan ruang bagi seluruh elemen bangsa menundukkan kepala, memanjatkan doa terbaik sesuai agama dan kepercayaan masing-masing, serta merenungkan kembali jasa-jasa almarhum.
Mulai esok hari, Kamis, 5 Maret 2026, bendera Merah Putih di seluruh instansi dan wilayah Republik Indonesia akan kembali dinaikkan secara penuh hingga ke puncak tiang. Berakhirnya masa Berkabung Nasional ini menandai lembaran baru di mana bangsa Indonesia harus kembali bangkit dan melangkah maju, membawa semangat dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu, termasuk Jenderal Try Sutrisno. Selamat jalan, Bapak Try Sutrisno. Jasa dan pengabdianmu akan senantiasa terukir dengan tinta emas dalam sejarah ibu pertiwi.

