Memulihkan Cara Pandang, Bukan Sekadar Memadamkan Api

Your PDF file is ready
[file-tag: code-generated-file-3eb088c0-a540-4524-874b-40e42b8fefbf]
Ketika Bentang Alam Menjerit: Membedah Akar Krisis Kebakaran Lahan Gambut di Kalimantan
Oleh Redaksi Lingkungan
Berdasarkan Analisis Save Our Borneo (SOB)
Musim kemarau panjang yang dipicu oleh fenomena El Nino kembali menghadirkan ancaman rutin di wilayah Kalimantan Tengah. Namun, para pegiat lingkungan menegaskan bahwa cuaca kering bukanlah akar masalah utama dari bencana ekologis tahunan ini. Persoalan yang sesungguhnya jauh lebih dalam dan melibatkan tata kelola ruang serta cara pandang manusia terhadap ekosistem gambut.
Kalimantan Tengah kembali diselimuti kabut asap tebal seiring datangnya musim kemarau. Pemandangan suram ini telah berulang dari tahun ke tahun hingga seolah dianggap sebagai konsekuensi alamiah yang wajar setiap kali kemarau tiba. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memberikan peringatan dini mengenai dampak El Nino yang membuat musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dan kering. Kendati cuaca ekstrem meningkatkan kerentanan, menyalahkan sepenuhnya faktor alam adalah sebuah kekeliruan mendasar dalam melihat persoalan lingkungan.
Berdasarkan analisis data sebaran titik panas (hotspot) yang dihimpun oleh organisasi lingkungan Save Our Borneo (SOB) melalui platform NASA Fire Information for Resource Management System (FIRMS) serta citra satelit Sentinel-2 SWIR, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terpantau masif di berbagai wilayah strategis. Sepanjang Juli, titik-titik api kembali membara di sejumlah kabupaten seperti Pulang Pisau, Kotawaringin Timur, hingga Kota Palangka Raya.
Anatomi Kerusakan: Dari Tumbang Nusa hingga Kotawaringin Timur
Salah satu wilayah yang menjadi sorotan tajam adalah kawasan Tumbang Nusa di Kabupaten Pulang Pisau. Kawasan ini telah berulang kali mengalami peristiwa serupa pada musim-musim kemarau sebelumnya. Berulangnya bencana di titik yang sama mengindikasikan bahwa yang sedang dihadapi publik bukan sekadar kobaran api temporal, melainkan persoalan bentang alam gambut yang belum pernah benar-benar pulih dari kerusakan strukturalnya.
Ekosistem gambut secara alami berfungsi sebagai spons raksasa yang menyerap dan menyimpan cadangan karbon dalam jumlah raksasa. Ketika fungsi hidrologinya rusak akibat drainase, pembuatan kanal, dan alih fungsi lahan, gambut berubah menjadi bahan bakar kering yang sangat mudah tersulut api.
Ketika tata kelola air diubah secara paksa melalui pembuatan kanal-kanal drainase untuk kepentingan komersial, air yang tadinya mengunci kelembapan gambut terkuras habis. Akibatnya, lapisan gambut mengering dan berubah wujud menjadi material organik yang sangat mudah terbakar. Dalam kondisi lanskap yang telah terdegradasi parah semacam ini, musim kemarau hanyalah bertindak sebagai pemantik, bukan aktor utama penyebab bencana.
Keterangan Resmi
Selama ini, respons penanganan karhutla di Indonesia kerap kali bersifat reaktif—sibuk mengerahkan Satgas pemadaman darat dan udara saat api sudah telanjur meluas, lalu melupakan akar masalah ketika musim hujan tiba. Pendekatan semacam ini terbukti gagal menghentikan siklus tahunan kebakaran hutan.
Direktur Eksekutif Save Our Borneo, M. Habibi, menekankan bahwa kunci utama penyelesaian krisis ini terletak pada keseriusan pemulihan ekosistem gambut secara menyeluruh serta perubahan paradigma berpikir. Tanpa adanya perombakan cara pandang, kebakaran akan terus dianggap sebagai bencana alam musiman semata, alih-alih sebagai kegagalan tata kelola lingkungan yang sebenarnya dapat dicegah sejak dini.
Pada akhirnya, yang harus diselamatkan dan diperbaiki bukan sekadar hamparan lahan gambut yang hangus terbakar, melainkan cara pandang manusia dalam memperlakukan alam. Kebijakan tata ruang yang adil, komitmen restorasi hidrologi gambut yang konsisten, serta penegakan hukum yang tegas terhadap perusak lingkungan adalah prasyarat mutlak agar bencana ekologis ini tidak terus berulang menelan korban.
Sumber Referensi Utama:
Diolah dari artikel opini Betahita berjudul Yang Terbakar Bukan Hanya Gambut, Melainkan Cara Kita Memahaminya (<!–>).
–>
