Heboh! Air Laut di Sultra Mendadak Surut Ekstrem, BMKG Beri Peringatan Waspada Gelombang Tinggi

Artikel berita Anda telah siap.
Artikel_Berita_Surut_Air_Laut_Sultra MD
<!–>
Sebuah video amatir yang merekam kejadian alam tak biasa di perairan Sulawesi Tenggara (Sultra) baru-baru ini mendadak viral dan memicu perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Dalam tayangan yang beredar luas tersebut, terlihat fenomena permukaan air laut yang surut secara ekstrem dan tiba-tiba. Kondisi ini membuat sebuah kapal yang sedang berlayar mendadak harus terhenti total di tengah lautan.
Pada awalnya, kapal yang berada dalam video itu tampak sedang melaju dengan normal menyusuri jalur pelayarannya. Namun, tanpa disangka-sangka, volume dan permukaan laut menyusut drastis dalam kurun waktu yang sangat singkat. Akibat kedalaman air yang tidak lagi memadai untuk berlayar, kapal tersebut akhirnya tak berdaya dan nyaris kandas. Para awak kapal terpaksa membuang “jangkar darurat sembari menunggu air kembali pasang agar kapal bisa kembali beroperasi. Beruntungnya, insiden mendebarkan ini tidak sampai menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan fisik pada armada laut tersebut.
Rangkaian Peristiwa
Menurut perkiraan, fenomena surutnya air laut secara drastis semacam ini sangat dipengaruhi oleh kombinasi gaya tarik atau gravitasi ekstrem antara Matahari dan Bulan. Efek tarik-menarik astronomis ini memang sering kali terasa begitu kuat di beberapa wilayah pesisir, yang pada akhirnya memicu penurunan signifikan pada batas permukaan laut, jauh di bawah ambang batas normalnya.
Menanggapi kehebohan yang terjadi di tengah masyarakat terkait fenomena alam ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merespons dengan mengeluarkan peringatan dini. Pihak BMKG meminta agar seluruh nelayan, penyedia jasa transportasi laut, dan warga yang tinggal di kawasan pesisir Sulawesi Tenggara untuk jauh lebih meningkatkan kewaspadaan ekstra.
Di samping itu, BMKG juga merilis peringatan resmi mengenai potensi terjadinya gelombang tinggi yang diperkirakan bisa mencapai 1,25 hingga 2,5 meter di beberapa perairan Sultra pada periode 27–30 Juli 2026. Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Kendari, I Made Wahyu Gana Putra, memaparkan bahwa pola angin di wilayah Sultra saat ini didominasi tiupan dari arah timur hingga selatan, dengan kecepatan yang berkisar antara 2 sampai 20 knot.
Keterangan Resmi
Kecepatan angin paling tinggi terpantau bisa mencapai 25 knot atau setara dengan 6 Skala Beaufort di wilayah Perairan Wakatobi bagian barat, Perairan Wakatobi bagian timur, serta Laut Banda Timur Wakatobi,” terang I Made Wahyu Gana Putra (27/7/2026), mengutip laporan dari Antara.
Wahyu lebih lanjut membeberkan, potensi gelombang berukuran sedang antara 1,25 hingga 2,5 meter ini diprediksi berpeluang melanda setidaknya 12 area perairan di Sulawesi Tenggara. Wilayah yang rawan terdampak di antaranya meliputi Laut Labengki, Selat Labengki, Perairan Utara Wawonii, Laut Banda Timur Wawonii, Selat Cempedak, dan Teluk Bone Barat Kabaena. Tak berhenti di situ, probabilitas kondisi serupa juga diperkirakan terjadi di Perairan Baubau, Laut Flores Selatan Buton, Perairan Buton, Perairan Wakatobi Bagian Barat, Perairan Wakatobi Bagian Timur, dan Laut Banda Timur Wakatobi.
Sebagai bentuk antisipasi, BMKG secara khusus mengimbau kepada masyarakat yang sehari-hari beraktivitas menggunakan perahu nelayan untuk selalu waspada, terutama jika kecepatan angin melebihi 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter. Sementara itu, untuk moda laut seperti kapal tongkang, operator diminta sangat berhati-hati bila kecepatan angin menyentuh angka 16 knot dengan tinggi gelombang 1,5 meter. Para pelaku aktivitas maritim ditekankan untuk senantiasa memantau pembaruan cuaca berkala dari saluran resmi BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Kendari demi menjamin keselamatan selama pelayaran.
–>

