PDIP Refleksikan Kudatuli sebagai Tonggak Demokras

Menolak Lupa Tragedi 27 Juli: PDI Perjuangan Jadikan Kudatuli Sebagai Fondasi dan Tonggak Demokrasi Indonesia
Setiap tanggal 27 Juli, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) selalu menundukkan kepala sejenak, memutar kembali ingatan kolektif pada salah satu episode paling kelam dalam sejarah perpolitikan Indonesia: Kerusuhan 27 Juli 1996, yang lebih dikenal dengan akronim Kudatuli. Peristiwa berdarah ini tidak hanya direfleksikan sebagai duka mendalam bagi partai, melainkan secara tegas dimaknai sebagai tonggak sejati lahirnya demokrasi dan gerakan reformasi di Tanah Air.
Rangkaian Peristiwa
Peristiwa Kudatuli bermula dari pengambilalihan secara paksa kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat. Saat itu, markas partai yang dikuasai oleh kubu pendukung Megawati Soekarnoputri diserbu oleh kelompok massa pendukung Soerjadi yang diyakini mendapat sokongan penuh dari rezim otoriter Orde Baru. Intervensi penguasa terhadap kedaulatan internal partai ini memicu bentrokan hebat yang tidak hanya meluluhlantakkan kantor partai, namun juga meluas menjadi kerusuhan besar di berbagai titik di ibu kota, seperti kawasan Salemba dan Kramat.
Berdasarkan penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di masa itu, tragedi Sabtu Kelabu ini merenggut setidaknya lima korban jiwa, menyebabkan 149 orang luka-luka, dan 136 orang ditahan. Oleh karena besarnya pengorbanan rakyat, para petinggi PDI Perjuangan terus mewariskan narasi peringatan ini agar seluruh kader tidak mengidap amnesia sejarah, sesuai dengan prinsip Bung Karno, Jas Merah (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah).
Jajaran pimpinan partai selalu menekankan bahwa tanpa adanya letupan perlawanan pada 27 Juli, gelombang reformasi 1998 yang menumbangkan rezim Soeharto mungkin tidak akan pernah menemukan momentumnya. Kudatuli adalah bukti nyata di mana suara arus bawah dan kekuatan basis massa berani berhadap-hadapan langsung dengan tembok kekuasaan otoriter. Hal ini membuktikan bahwa Megawati Soekarnoputri beserta gerbongnya bisa bertahan bukan karena dorongan elite semata, melainkan buah perjuangan berdarah-darah dari rakyat biasa yang mendambakan iklim kebebasan berpendapat.
Dalam berbagai rangkaian peringatannya setiap tahun—mulai dari doa bersama, tabur bunga, diskusi publik, hingga renungan malam di kantor-kantor daerah seluruh Indonesia—PDI Perjuangan senantiasa mengonsolidasikan makna dari peristiwa ini. Demokrasi dipandang sebagai harga mati yang tidak boleh diciderai, diintervensi apalagi disusupi oleh praktik oligarki yang mengabaikan kedaulatan rakyat.
Keterangan Resmi
Di tengah dinamika perpolitikan masa kini, refleksi Kudatuli menjadi cambuk pengingat agar PDI Perjuangan terus tangguh turun ke bawah, sekaligus mendesak agar keadilan bagi keluarga korban tragedi pelanggaran HAM tahun 1996 tersebut pada akhirnya dapat diusut secara tuntas oleh negara.
Liputan ini memperlihatkan secara langsung suasana khidmat saat PDIP menggelar doa bersama dan prosesi tabur bunga di depan markas partai, mengingatkan kita pada lokasi asli sejarah berdarah tersebut.
<!–>
PDIP Peringati 29 Tahun Peristiwa Kudatuli dengan Tabur Bunga hingga Doa Bersama di Jalan Diponegoro
–><!–>
KOMPASTV · 3.8K views
–>
Open in PDIP Peringati 29 Tahun Peristiwa Kudatuli dengan Tabur Bunga hingga Doa Bersama di Jalan Diponegoro
<!–>
–>

