Di Sekolah Rakyat Gresik, Anak-anak dari Keluarga Prasejahtera Mulai Menulis Mimpi Baru | beritajatim.com

Artikel_Berita_Sekolah_Rakyat_Gresik PDF
<!–>
Berikut adalah teks artikel berita yang telah disusun dengan judul baru berdasarkan fakta dari sumber utama yang dilampirkan:
Mewujudkan Kesetaraan Pendidikan: Ratusan Anak Prasejahtera Gresik Mulai Merajut Cita-Cita di Sekolah Rakyat
GRESIK – Wajah-wajah penuh antusiasme dan harapan baru terlihat menghiasi suasana di Desa Raci Tengah, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, pada Jumat (31/7/2026). Puluhan anak dengan seragam yang tertata rapi melangkah memasuki gerbang sekolah, diantar oleh tatapan bangga sekaligus haru dari orang tua mereka. Hari itu menjadi tonggak sejarah penting, bukan hanya karena dimulainya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), tetapi juga sebagai babak baru bagi ratusan anak dari keluarga prasejahtera untuk mendapatkan akses pendidikan gratis di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT).
Rangkaian Peristiwa
Dibangun di atas lahan seluas 6,5 hektare, Sekolah Rakyat ini hadir dengan konsep berasrama serta ditunjang oleh fasilitas pendidikan yang lengkap. Bagi banyak anak di sana, bisa menempuh pendidikan di sekolah dengan fasilitas mumpuni tanpa memikirkan beban biaya adalah sebuah mimpi yang sebelumnya tak berani mereka bayangkan. Inisiatif luar biasa ini merupakan bentuk intervensi nyata dari pemerintah daerah guna memberikan akses pendidikan berkualitas bagi kelompok masyarakat rentan, sehingga himpitan ekonomi tak lagi menjadi penghalang menggapai cita-cita.
Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani (Gus Yani), menegaskan bahwa pendidikan adalah jalan paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Berdirinya Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) tidak sekadar menambah gedung baru. Lebih dari itu, tujuannya adalah membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) yang unggul, yang kelak akan menjadi motor penggerak pembangunan.
Sekolah Rakyat Terintegrasi ini dirancang agar mampu menampung sebanyak 405 peserta didik. Rinciannya terdiri dari 90 siswa di jenjang SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA. Selain itu, kami juga mengakomodasi 60 siswa titipan dari Kabupaten Lamongan serta 75 siswa dari SRMA 37 Gresik agar turut belajar di lingkungan pendidikan tersebut, urai Gus Yani.
Guna memastikan kesiapan mental dan karakter para siswa, MPLS di SRT diselenggarakan dalam durasi yang cukup panjang, terhitung sejak 31 Juli hingga 21 Agustus 2026. Orientasi ini tidak sebatas pada pengenalan kelas dan guru, melainkan untuk membangun kedisiplinan, kemandirian, rasa tanggung jawab, semangat gotong royong, serta adaptasi di lingkungan berasrama.
Keterangan Resmi
Gus Yani juga menitipkan pesan mendalam bagi para murid agar tidak perlu merasa minder atau rendah diri karena latar belakang ekonomi keluarga. Kehadiran mereka di Sekolah Rakyat justru menjadi bukti bahwa negara hadir untuk membuka jalan menuju masa depan yang cerah.
Pendidikan dinilai tidak akan berhasil jika hanya bertumpu pada guru, tetapi membutuhkan dukungan seluruh pihak agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial, tegas Bupati yang tengah menjabat dua periode ini.
Kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi menjadi secercah harapan baru. Di balik dinding bangunan baru tersebut, ratusan mimpi mulai bersemi kembali. Keluarga prasejahtera kini bisa meyakini bahwa pendidikan yang layak mampu mengubah nasib, dan bahwa kemiskinan bukanlah warisan mutlak bagi generasi masa depan.
(Artikel diolah berdasarkan fakta dan referensi dari Beritajatim.com)
–>

