Bikin Jantung Copot! Gempa M 5,4 Sukabumi Guncang Jabodetabek, Warga Berhamburan Saat Santap Sahur
HOT.co.id – Suasana syahdu dan tenang di waktu sepertiga malam terakhir seketika berubah menjadi kepanikan massal yang mencekam. Tepat di saat umat Islam di berbagai wilayah tengah khusyuk menyantap hidangan sahur pada puasa hari ke-24 Ramadan 1447 Hijriah, guncangan gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 5,4 memecah keheningan pada Sabtu dini hari, 14 Maret 2026. Episentrum gempa yang terletak di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini nyatanya memiliki daya rambat energi yang cukup kuat, hingga getarannya terasa sangat mengentak di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), hingga Kabupaten Cianjur.
Berdasarkan rilis data resmi dan mutakhir dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), peristiwa alam ini tercatat terjadi pada pukul 03.15 WIB. Titik koordinat pusat gempa berada di darat, tepatnya pada jarak sekitar 28 kilometer arah tenggara Kabupaten Sukabumi. Hal yang membuat gempa ini terasa sangat kuat adalah kedalamannya (hiposentrum) yang tergolong amat dangkal, yakni hanya berada di kedalaman 12 kilometer di bawah permukaan bumi. Kedalaman yang dangkal inilah yang menjadi alasan utama mengapa guncangan terasa seolah-olah ada kendaraan berat yang menabrak fondasi rumah dari dalam tanah.
“Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal yang diakibatkan oleh adanya aktivitas sesar aktif di wilayah Jawa Barat. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan geser atau strike-slip,” urai Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG dalam keterangan pers tertulisnya sesaat setelah guncangan mereda. BMKG juga dengan sangat cepat memastikan bahwa gempa bumi ini sama sekali tidak memicu potensi tsunami, sehingga warga di pesisir selatan Jawa diimbau untuk tidak termakan isu hoaks yang menyesatkan.
Kepanikan paling luar biasa tentu saja terjadi di wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa, yakni pelosok Sukabumi dan Kabupaten Cianjur. Di Cianjur, trauma masa lalu akibat tragedi gempa dahsyat akhir tahun 2022 silam seolah kembali menganga lebar. Ratusan warga dilaporkan berlarian ke luar rumah tanpa sempat menyelamatkan barang berharga, bahkan beberapa di antaranya masih memegang piring berisi makanan sahur. Suara takbir yang bersahutan, jeritan anak-anak yang terbangun paksa dari tidurnya, hingga lolongan anjing liar di permukiman saling bercampur memecah pekatnya pagi.
“Lagi enak-enaknya makan sahur pakai sayur kuah, tiba-tiba meja makan goyang kencang banget, air minum di gelas sampai tumpah semua. Saya langsung refleks teriak ‘Gempa! Gempa!’ sambil narik tangan anak istri lari ke halaman luar. Gemetaran semua badan, teringat langsung kejadian gempa rumah hancur yang dulu,” ungkap Ujang (45), salah seorang warga Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, saat dihubungi oleh tim redaksi dengan nada suara yang masih bergetar.
Getaran gempa M 5,4 ini nyatanya tidak hanya mengusik ketenangan warga Bumi Pasundan. Efeknya menyebar jauh hingga ke jantung ibu kota negara, Jakarta. Warga yang bermukim di gedung-gedung bertingkat, kos-kosan, maupun apartemen di kawasan Jakarta Selatan dan Jakarta Barat melaporkan adanya guncangan mengayun yang terasa nyata selama kurang lebih 5 hingga 10 detik. Lampu gantung terlihat bergoyang, pintu lemari berderak hebat, hingga air di dalam akuarium beriak tumpah. Tak butuh waktu lama, kata kunci “Gempa”, “Sukabumi”, “Kerasa Banget”, dan “Sahur” langsung menduduki puncak trending topic di platform X (Twitter) dalam hitungan menit, dipenuhi oleh cuitan warganet yang kaget dan saling memastikan kondisi satu sama lain.
Merespons situasi darurat di akhir pekan ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi dan Provinsi Jawa Barat telah menerjunkan Tim Reaksi Cepat (TRC) ke berbagai titik lokasi yang dinilai rawan. Fokus utama mereka pagi ini adalah melakukan kaji cepat (rapid assessment) terkait dampak kerusakan fisik dan kebutuhan mendesak warga. Hingga berita ini diturunkan pada Sabtu pagi, laporan sementara dari lapangan menyebutkan adanya sejumlah kerusakan ringan hingga sedang, seperti dinding rumah warga yang retak, genting berjatuhan, serta plafon bangunan fasilitas umum yang ambrol di beberapa desa di Kabupaten Sukabumi. Beruntung, belum ada laporan resmi dari posko kesehatan mengenai adanya korban jiwa maupun luka berat akibat tertimpa reruntuhan.
Pihak berwenang dan BMKG terus mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, rasional, dan tidak mudah terpancing oleh video lawas atau narasi berlebihan yang beredar di grup WhatsApp. Warga diminta untuk memeriksa kembali kondisi bangunan dan hanya kembali ke dalam rumah jika struktur dinding dan tiang penyangga dipastikan masih utuh serta tidak membahayakan. Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk selalu mewaspadai potensi gempa susulan (aftershock) yang lumrah terjadi secara fluktuatif pasca-gempa utama. Bencana alam memang bisa datang tanpa permisi kapan saja, namun kepanikan yang tidak terkendali justru sering kali membawa bahaya yang jauh lebih besar.

