Saat Ekonomi Sulit, Mengapa Konser Tetap Diburu?
Gambar dari artikel sumber. Sumber: Tirto
Saat Ekonomi Sulit, Mengapa Konser Tetap Diburu?
Meski harga tiket konser terus merangkak naik di tengah kondisi ekonomi yang menantang, minat masyarakat Indonesia untuk menghadiri pertunjukan musik secara langsung tetap tinggi. Fenomena ini menunjukkan bahwa konser bukan sekadar hiburan biasa, melainkan juga menjadi kebutuhan emosional dan pelepas stres yang sulit tergantikan. Data survei dan pengalaman penonton mengungkap alasan di balik antusiasme tersebut.
Konser sebagai Pelarian dan Pelepas Stres
Bintang Aulia, seorang pekerja di industri perbankan, mengaku menonton konser bukan hanya soal hiburan, tetapi juga sebagai ruang pelarian dari tekanan pekerjaan yang padat. Menurut Bintang, pengalaman menyaksikan musisi favorit secara langsung memberikan kepuasan yang tidak bisa didapatkan hanya dengan mendengarkan lagu melalui gawai. “Musik buatku hiburan sekaligus pelepas stres. Makanya aku suka banget nonton konser. Entah kenapa kalau nonton langsung rasanya puas. Bisa teriak, nyanyi, joget, buat melampiaskan semua masalah kerjaan dan kehidupan,” ujarnya kepada Tirto pada 8 Juli 2026.
Bintang rutin menghadiri dua hingga tiga konser atau festival musik setiap tahun, baik dari musisi lokal seperti Nadin Amizah dan Sheila On 7, maupun grup K-Pop favoritnya. Meski penghasilannya tidak besar, ia mengaku rela mengalokasikan dana puluhan juta rupiah per tahun untuk hobi ini dengan memangkas kebutuhan lain demi prioritas hiburan tersebut.
Pengalaman serupa juga dirasakan Naufal, yang menganggap menonton konser sebagai momen berharga yang sepadan dengan biaya mahal tiket. Ia menganggap kesempatan menyaksikan musisi favorit secara langsung adalah pengalaman seumur hidup yang tidak boleh dilewatkan, meskipun harga tiket terus naik.
Kenaikan Harga Tiket dan Dampaknya pada Penonton
Meski antusiasme tinggi, ada kekhawatiran dari para penonton terkait lonjakan harga tiket konser yang semakin tajam sepanjang tahun 2026. Bintang mengungkapkan bahwa kenaikan harga kali ini terasa lebih drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Faktor-faktor seperti kondisi ekonomi global, konflik internasional, kenaikan harga avtur, dan nilai tukar dolar yang tinggi diduga menjadi penyebab utama kenaikan tersebut.
Tata, pekerja di industri kreatif, menyatakan bahwa kenaikan harga membuatnya harus lebih selektif dalam memilih konser yang akan dihadiri. Ia kini hanya memprioritaskan musisi yang benar-benar disukai dan belum pernah disaksikan secara langsung, berbeda dengan sebelumnya yang lebih spontan membeli tiket.
Survei Menunjukkan Konser Sebagai Prioritas Emosional
Survei Jakpat bertajuk Music Concert Trends & Fan Behaviour 2025 yang melibatkan 1.658 responden pada 15-17 Agustus 2025 menunjukkan bahwa 52 persen responden datang ke konser untuk hiburan, sementara 46 persen lainnya mencari pelepas stres. Harga tiket tetap menjadi faktor penting dalam keputusan pembelian tiket, namun tidak mengurangi minat masyarakat untuk tetap hadir di konser.
Temuan ini konsisten dengan survei Jakpat tahun 2024 yang menunjukkan sekitar 80 persen responden senang menghadiri konser secara langsung, dengan alasan utama hiburan (55 persen) dan meredakan stres (50 persen). Survei Populix pada Oktober 2023 juga menunjukkan 77 persen responden tertarik menghadiri konser musik, dengan sebagian besar menonton satu hingga tiga konser per tahun.
Farida Hasna, Lead Researcher Jakpat, menyatakan bahwa hanya satu dari empat responden yang mempersiapkan anggaran khusus untuk konser, sementara sisanya menyesuaikan pengeluaran lain demi prioritas emosional ini. Hal ini mengindikasikan bahwa konser memiliki nilai lebih dari sekadar hiburan biasa.
Tren Kenaikan Harga Tiket Konser yang Berkelanjutan
Kenaikan harga tiket konser bukan fenomena baru. Penelusuran Tirto menunjukkan tren ini sudah berlangsung sejak sebelum pandemi COVID-19, namun laju kenaikannya semakin cepat dalam beberapa tahun terakhir. Contohnya, konser Katy Perry di Jakarta pada April 2018 mematok harga tiket antara Rp900 ribu hingga Rp5 juta, yang saat itu sudah dianggap mahal dan memicu perdebatan di media sosial.
Jika dibandingkan dengan negara tetangga, harga tiket konser di Indonesia cenderung lebih tinggi pada beberapa kategori. Di Singapura, tiket konser yang sama dijual antara 128 hingga 328 dolar Singapura (sekitar Rp1,2 juta-Rp3,4 juta), sementara di Jepang berkisar antara 10 ribu hingga 30 ribu yen (sekitar Rp1,2 juta-Rp3,6 juta).
Lonjakan harga tiket ini kemungkinan dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, termasuk biaya produksi konser yang meningkat dan fluktuasi nilai tukar mata uang asing.
Informasi dalam artikel ini dapat diperbarui apabila terdapat perkembangan resmi selanjutnya.
