Puncak Arus Mudik Tembus Rekor: Tol Trans Jawa Macet Parah, Sistem One Way Diperpanjang
Hot.co.id – Prediksi pemerintah terkait lonjakan pergerakan masyarakat pada libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah terbukti akurat. Puncak arus mudik yang jatuh pada hari Rabu (18/3/2026) kemarin mencatatkan rekor volume kendaraan tertinggi dalam sejarah mudik pasca-pandemi. Imbas dari pergerakan jutaan warga ibu kota yang berbondong-bondong menuju kampung halaman di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur membuat ruas utama Tol Trans Jawa mengalami kelumpuhan di sejumlah titik krusial.
Berdasarkan data pantauan lalu lintas yang dirilis oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk, rekor tertinggi pecah di Gerbang Tol (GT) Cikampek Utama (Cikatama). Sejak Rabu dini hari hingga malam hari, tercatat lebih dari 150 ribu kendaraan melintas meninggalkan wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) menuju arah timur. Angka ini melonjak tajam hingga 215 persen jika dibandingkan dengan volume lalu lintas pada hari normal, dan diproyeksikan masih akan terus merangkak naik mengingat cuti bersama resmi dimulai pada hari ini, Kamis (19/3/2026).
Kepadatan ekstrem ini tidak hanya terjadi di mulut gerbang tol, tetapi memanjang hingga puluhan kilometer di lajur utama Tol Cikampek-Palimanan (Cipali) hingga Tol Pejagan-Pemalang. Laju kendaraan di beberapa ruas terpantau nyaris tak bergerak atau statis selama berjam-jam. Menghadapi situasi lalu lintas yang kian di luar kendali dan berisiko memicu kelelahan massal para pengemudi, Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri akhirnya mengambil diskresi tegas dengan mengubah skenario rekayasa lalu lintas yang telah dijadwalkan sebelumnya.
Kepala Korlantas Polri mengumumkan bahwa pemberlakuan sistem satu arah atau one way, yang awalnya direncanakan berakhir pada Rabu tengah malam, resmi diperpanjang batas waktunya secara situasional hingga batas waktu yang belum ditentukan. Tidak hanya durasinya yang diperpanjang, jangkauan sistem one way yang semula hanya diberlakukan dari KM 72 Tol Cipali hingga KM 414 GT Kalikangkung, Semarang, kini diekspansi. Arus satu arah ditarik lebih jauh ke timur guna menguras tumpukan kendaraan yang mulai mengular di wilayah Jawa Tengah menuju perbatasan Jawa Timur.
“Volume kendaraan yang masuk dari arah Jakarta masuk dalam kategori sangat padat dan di luar ambang batas normal kapasitas jalan tol. Oleh karena itu, demi mengurai kebuntuan lalu lintas atau gridlock, sistem one way kami perpanjang penerapannya. Keputusan ini bersifat dinamis; kami akan terus mengevaluasi indikator volume kendaraan di lapangan setiap tiga jam sekali menggunakan traffic counting di GT Cikatama. Jika arus mulai melandai, perlahan lajur akan kami normalkan kembali,” jelas perwira tinggi Korlantas Polri dalam keterangan pers daruratnya di Posko Terpadu KM 29, Rabu malam.
Selain volume kendaraan yang memang membeludak, pihak kepolisian dan Jasa Marga mengidentifikasi bahwa salah satu biang kerok utama kemacetan parah di Tol Trans Jawa adalah perilaku pengemudi di sekitar Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) atau rest area. Kapasitas rest area yang terbatas tidak mampu menampung ribuan pemudik yang ingin beristirahat, berbuka puasa, atau sekadar menggunakan toilet. Akibatnya, banyak pengemudi yang nekat memarkirkan kendaraannya di bahu jalan tol hingga memakan separuh lajur kiri. Hal ini menciptakan bottleneck atau penyempitan lajur yang memicu efek karambol kemacetan hingga berkilo-kilometer ke belakang.
Untuk mengatasi permasalahan klasik ini, petugas gabungan di lapangan terpaksa melakukan sistem buka-tutup rest area. Jasa Marga secara tegas mengimbau para pemudik untuk tidak memaksakan diri masuk ke rest area yang sudah dipenuhi kendaraan. Sebagai alternatif, pemudik sangat disarankan untuk keluar sejenak di gerbang tol terdekat menuju jalan arteri Pantura jika ingin mencari SPBU, tempat makan, atau ruang istirahat yang lebih memadai, untuk kemudian masuk kembali ke jalan tol tanpa dikenakan biaya tambahan tarif masuk awal.
Pemerintah juga terus mengingatkan para pengemudi yang saat ini masih terjebak dalam antrean di Tol Trans Jawa untuk tetap menjaga emosi dan tidak melakukan manuver berbahaya seperti menyerobot lajur darurat atau bahu jalan raya. Selain itu, pastikan kecukupan saldo uang elektronik (e-toll) agar tidak menciptakan jeda waktu transaksi yang lama di gerbang tol, serta selalu pantau pembaruan informasi rekayasa lalu lintas melalui aplikasi navigasi maupun radio resmi kepolisian.

