Buntut Makian Kasar Soal Palestina, Abu Janda Diusir Aiman Witjaksono dari Siaran Live TV, KPID Langsung Bertindak!
Jagat media sosial Tanah Air kembali dibuat geger oleh ulah pegiat media sosial kontroversial, Permadi Arya, atau yang lebih akrab disapa Abu Janda. Kali ini, pria yang kerap melontarkan pernyataan provokatif tersebut tertangkap kamera mengamuk, melontarkan kata-kata kotor, hingga berujung pada pengusiran dirinya secara paksa dari sebuah program gelar wicara (talkshow) televisi nasional yang disiarkan secara langsung pada Selasa malam (10/3/2026).
Insiden memalukan yang kini menjadi trending topic di berbagai platform media sosial itu terjadi dalam program diskusi “Rakyat Bersuara” yang dipandu oleh jurnalis senior, Aiman Witjaksono. Malam itu, diskusi mengangkat tema panas seputar eskalasi konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, Iran, dan posisi kemerdekaan Palestina. Di atas panggung, Abu Janda dihadapkan dengan narasumber-narasumber berbobot, yakni Pakar Hukum Tata Negara Feri Amsari, serta Mantan Duta Besar RI untuk Tunisia, Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti.
Ketegangan di dalam studio rupanya sudah mulai terasa sejak awal segmen. Keributan pertama terpicu ketika Abu Janda dengan percaya diri melontarkan argumen yang membela Amerika Serikat. Ia mengklaim bahwa sentimen anti-Amerika di Indonesia sering kali tidak berdasar. Menurutnya, Amerika memiliki jasa yang sangat besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, terutama saat menekan Belanda dan pasukan NICA pasca-Perang Dunia II.
Pernyataan ini langsung disanggah dengan elegan oleh Prof. Ikrar Nusa Bhakti. Sang profesor meminta Abu Janda untuk kembali membaca literatur sejarah secara utuh, salah satunya buku karya George McTurnan Kahin. Prof. Ikrar menjelaskan secara akademis bahwa intervensi Amerika saat itu bukanlah semata-mata karena kebaikan hati, melainkan didorong oleh ketakutan paranoid AS bahwa Indonesia akan jatuh ke dalam pelukan blok Komunis di masa Perang Dingin. Bukannya menerima penjelasan akademis tersebut, Abu Janda justru mulai terpancing emosinya dan memotong pembicaraan sang profesor.
Puncak dari kekacauan ini pecah ketika giliran Feri Amsari angkat bicara mengenai posisi Indonesia terhadap Palestina. Feri mengingatkan publik bahwa bangsa Indonesia sejatinya memiliki “utang sejarah” yang sangat besar terhadap bangsa Palestina. Ia merujuk pada fakta sejarah di mana para bangsawan Palestina turut menyumbangkan hartanya untuk membantu pergerakan diplomasi H. Agus Salim di Timur Tengah demi menggalang pengakuan atas kemerdekaan Indonesia.
Mendengar pemaparan Feri Amsari, Abu Janda sontak meradang hebat. Ia menolak keras narasi tersebut dan dengan nada suara tinggi menyebutnya sebagai berita bohong atau hoaks. “Tidak ada utang sama Palestina! Utang apa? Jangan ngaco! Ada hoaks yang bilang Palestina negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Itu hoaks, karena tahun 1945 belum ada negara Palestina!” teriak Abu Janda berapi-api.
Feri Amsari yang tetap tenang mencoba membalas bahwa sejarah sumbangsih bangsawan Palestina itu adalah fakta yang terdokumentasi, bukan sekadar hoaks. Namun, Abu Janda yang sudah kehilangan kendali justru mulai menyerang secara personal. Ia melontarkan rentetan kata-kata makian dan kebun binatang yang sangat tidak pantas diucapkan di ruang publik, apalagi di saluran televisi yang menggunakan frekuensi milik rakyat.
Situasi yang semakin tak terkendali (chaos) ini memaksa Aiman Witjaksono selaku pemandu acara untuk mengambil tindakan tegas. Melihat narasumbernya terus melontarkan makian tanpa memedulikan etika penyiaran, Aiman langsung berdiri menengahi dan mengambil alih forum. “Tidak boleh seperti itu! Kalau Anda tidak bisa tertib, keluar! Keluar… keluar!” usir Aiman dengan lantang dan tegas ke arah Abu Janda. Alih-alih mereda, Abu Janda justru membalas teguran itu dengan angkuh, menyatakan bahwa ia dengan senang hati akan pergi tanpa perlu diusir, sebelum akhirnya benar-benar angkat kaki dari studio.
Buntut dari insiden live tersebut tidak main-main. Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DKI Jakarta langsung turun tangan merespons kegaduhan ini. Ketua KPID DKI Jakarta, Achmad Sulhy, menyatakan penyesalannya yang mendalam atas lolosnya tayangan berisi ucapan kasar tersebut, terlebih peristiwa ini terjadi bertepatan dengan momentum bulan suci Ramadan yang seharusnya dijaga kesantunannya.
KPID DKI secara resmi melayangkan teguran dan berencana memanggil pihak stasiun televisi terkait. Sulhy juga dengan tajam mempertanyakan kapasitas dan kompetensi keilmuan seorang Abu Janda untuk berbicara mengenai isu geopolitik Timur Tengah yang sangat kompleks. “Televisi sebagai lembaga penyiaran publik punya tanggung jawab besar. Harus lebih selektif menghadirkan narasumber, pertimbangkan rekam jejak dan kapasitasnya. Ruang publik tidak seharusnya diisi dengan perkataan kasar seperti itu,” tegas Sulhy kepada awak media pada Kamis (12/3/2026).
Kini, video detik-detik pengusiran Abu Janda tersebut telah dibagikan jutaan kali oleh warganet. Mayoritas publik memberikan dukungan penuh atas sikap tegas Aiman Witjaksono, sekaligus melontarkan kritik tajam terhadap gaya komunikasi Abu Janda yang dinilai selalu mencari sensasi lewat arogansi daripada adu argumen yang berbasis literasi.

