Tradisi Pojhien Warnai Pencanangan Desa Karanganyar sebagai Desa Budaya di Bondowoso | beritajatim.com

Pesona Spiritual Tradisi Pojhien di Balik Pengukuhan Karanganyar Sebagai Desa Budaya Bondowoso
BONDOWOSO — Sebuah tradisi warisan leluhur yang sarat akan makna spiritual, yakni Tradisi Pojhien, tampil memukau dan mewarnai acara pencanangan Desa Karanganyar, Kecamatan Klabang, sebagai Desa Budaya oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso pada Kamis (30/7/2026) sore. Penobatan ini menjadi wujud nyata komitmen pemerintah daerah bersama masyarakat setempat dalam mempertahankan identitas sekaligus melestarikan warisan kearifan lokal di tengah pesatnya laju zaman modern.
Berdasarkan fakta di lapangan, Tradisi Pojhien bukanlah sekadar atraksi seni pertunjukan biasa. Ritual ini pada hakikatnya merupakan bentuk manifestasi doa yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Isinya berfokus pada permohonan ampunan serta perlindungan dari segala macam marabahaya. Menilik dari sejarahnya, ritual ini secara tradisional kerap diselenggarakan oleh masyarakat saat musim kemarau tiba, sebuah periode yang di masa lampau sangat erat kaitannya dengan ancaman musibah gagal panen (paceklik) hingga mewabahnya penyakit mematikan.
Rangkaian Peristiwa
Atraksi ini dibawakan secara kolektif oleh sejumlah laki-laki dan perempuan dengan formasi yang khas dan sarat makna. Dua orang akan bertindak sebagai sesepuh yang khusyuk memimpin doa. Sementara itu, peserta lainnya bertugas sebagai pengiring yang melantunkan musik unik. Hebatnya, seluruh alunan nada tersebut dihasilkan secara langsung dari harmoni suara manusia tanpa bantuan instrumen alat musik satu pun.
Daya tarik dan keunikan tradisi ini semakin memuncak dengan kehadiran dua batang bambu setinggi enam hingga 12 meter yang dipasang tegak menjulang ke langit. Bambu-bambu ini memuat filosofi mendalam sebagai simbol hubungan vertikal antara manusia dan Sang Pencipta. Pada puncak pertunjukan, masing-masing bambu tersebut dipanjat oleh seorang pemain yang dengan lincah dan berani menampilkan berbagai atraksi di atas ketinggian, mulai dari menari hingga bergelantungan.
Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, yang hadir dalam peresmian tersebut menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki tekad kuat agar tradisi-tradisi peninggalan leluhur ini tetap hidup dan diwariskan kepada generasi penerus. Menurutnya, kebudayaan lokal tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk menjaga nilai-nilai luhur, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi dan pariwisata yang sangat besar.
Keterangan Resmi
Kita mencoba mendorong agar kebudayaan ini tidak hilang, tetapi diwariskan, dikembangkan, dan juga mendukung pariwisata. Dengan begitu budaya ini bisa menjadi aset daerah yang diminati wisatawan, tutur Abdul Hamid Wahid.
Lebih lanjut, Bupati Hamid mengungkapkan bahwa Pemkab Bondowoso saat ini tengah dalam proses mengusulkan Tradisi Pojhien agar resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda. Langkah strategis ini diambil karena Pojhien diakui memiliki kedalaman filosofi yang luar biasa; mencerminkan tingginya penghayatan spiritual masyarakat setempat, bentuk penghormatan kepada para leluhur, sekaligus menjadi atraksi wisata budaya yang eksotik.
Melalui pencanangan ini, Desa Karanganyar diharapkan mampu menjadi desa pionir yang tidak hanya sukses menjaga jati diri daerah, namun juga mampu menggerakkan roda perekonomian warganya melalui pemberdayaan sektor pariwisata berbasis tradisi. Program desa budaya di Bondowoso sendiri diketahui telah berjalan secara konsisten sejak tahun 2017 silam sebagai ruang kreativitas unggulan masyarakat.
Fakta dan informasi dalam artikel ini dirangkum berdasarkan sumber utama dari liputan pemberitaan Beritajatim.com.

