Fakta Baru Kasus Andrie Yunus: Polisi Kantongi Jejak Digital dan Sketsa Wajah Terduga Pelaku
JAKARTA, Hot.co.id – Upaya pengungkapan kasus teror penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, mulai menunjukkan titik terang. Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya mengklaim telah mengantongi sejumlah alat bukti baru yang sangat krusial, termasuk jejak digital terduga pelaku dan sketsa wajah yang akan segera disebarluaskan ke publik. Perkembangan signifikan ini memberikan secercah harapan di tengah derasnya desakan masyarakat agar aparat penegak hukum segera menangkap dalang utama penyerangan keji tersebut sebelum Hari Raya Idul Fitri tiba.
Tim gabungan dari Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya dan Kepolisian Resor (Polres) Metro Jakarta Pusat telah menerapkan metode penyelidikan berbasis ilmiah (scientific crime investigation) secara masif dan intensif sejak malam kejadian pada Kamis (12/3/2026) lalu. Selain menyisir ulang dan memperjelas resolusi 86 titik kamera pengawas (CCTV) di sepanjang rute pelarian pelaku dari kawasan Salemba 1 hingga perbatasan Jakarta Selatan dan Timur, polisi kini tengah membedah data cell dump atau rekam jejak komunikasi seluler dari sejumlah menara Base Transceiver Station (BTS) di sekitar lokasi kejadian.
“Dari hasil analisis perlintasan komunikasi digital di jam-jam krusial tersebut, tim penyidik berhasil menemukan adanya anomali aktivitas dari beberapa nomor ponsel yang pergerakannya sangat identik dengan rute pelarian para pelaku di lapangan. Jejak digital ini memegang peranan sangat vital untuk memetakan siapa saja pihak yang berkomunikasi dengan para eksekutor, baik sebelum pemantauan TKP, saat eksekusi penyiraman air keras terjadi, hingga pasca-kejadian. Kami menduga kuat ini bukan sekadar aksi kriminal sporadis, melainkan kejahatan terencana yang melibatkan aktor intelektual,” beber Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya dalam keterangan pers terbarunya, Rabu (18/3/2026).
Kabar baik lainnya datang dari proses identifikasi visual. Berdasarkan sinkronisasi keterangan sejumlah saksi mata di tempat kejadian perkara (TKP) dan teknologi face recognition yang diolah dari tangkapan CCTV, Pusat Inafis Polri berhasil merampungkan sketsa wajah dua dari empat terduga pelaku. Keempat pelaku diketahui beraksi secara berkelompok dan terorganisasi menggunakan dua unit sepeda motor tanpa pelat nomor registrasi yang jelas. Peran mereka pun terbagi dengan rapi; dua orang bertindak sebagai joki atau pengemudi motor, sementara dua penumpang di belakang bertugas sebagai eksekutor utama yang menyiramkan cairan kimia dan pengawas situasi sekitar.
Sketsa wajah yang dirilis menampilkan ciri-ciri fisik yang cukup spesifik. Salah satu eksekutor digambarkan sebagai pria berusia sekitar 30 hingga 35 tahun, berpostur gempal, memiliki rahang yang tegas, dan sempat terlihat melepas helm full-face-nya sesaat setelah kejadian karena panik dan terburu-buru. Polisi juga telah mengamankan sebuah helm yang tertinggal di lokasi, yang diduga kuat terjatuh saat salah satu pelaku melarikan diri. Helm tersebut kini tengah diuji di Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) untuk mencari sampel DNA, keringat, maupun sidik jari laten yang tertinggal. Sementara itu, uji lab terhadap sisa pakaian Andrie Yunus yang hancur meleleh memastikan bahwa cairan yang digunakan adalah bahan kimia jenis asam sulfat konsentrasi tinggi yang sangat korosif dan mematikan.
Di sisi lain, koalisi masyarakat sipil, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), dan para kolega korban di KontraS menyambut baik progres penyelidikan kepolisian ini, meski tetap memberikan catatan kritis. Mereka secara tegas mendesak kepolisian agar tidak hanya berpuas diri pada penangkapan eksekutor lapangan (aktor kroco), tetapi harus memiliki keberanian untuk mengusut tuntas siapa dalang atau penyandang dana di balik teror ini. Kasus yang menimpa Andrie Yunus dinilai bukan sekadar tindak pidana penganiayaan murni, melainkan sebuah bentuk serangan langsung terhadap kebebasan berekspresi, pejuang hak asasi manusia, dan iklim demokrasi di Indonesia.
Pihak kepolisian menegaskan komitmen institusinya untuk menuntaskan kasus ini secepat dan setransparan mungkin, sejalan dengan instruksi dan atensi langsung dari Presiden Republik Indonesia. Kepolisian telah membuka hotline pengaduan khusus 24 jam dan sangat mengimbau masyarakat luas yang mengenali ciri-ciri wajah pada sketsa yang disebar luaskan untuk tidak takut melapor. Harapan publik kini sepenuhnya tertumpu pada integritas aparat penegak hukum untuk memberikan keadilan sejati bagi Andrie Yunus dan membuktikan bahwa ruang publik di negara ini tidak akan pernah tunduk oleh aksi premanisme dan teror.

