Ketegangan Memuncak! Mojtaba Khamenei Perintahkan Pasukan Iran Tetap Tutup Selat Hormuz, Ekonomi Global Terancam Lumpuh
HOT.co.id – Krisis geopolitik di kawasan Timur Tengah memasuki babak baru yang semakin mengerikan dan mengancam stabilitas dunia. Tokoh sentral sekaligus figur terkuat di balik layar pemerintahan Republik Islam Iran, Mojtaba Khamenei, dilaporkan secara eksklusif telah mengeluarkan instruksi militer tingkat tinggi kepada Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) beserta seluruh armada angkatan laut Iran. Perintah tersebut sangat jelas dan tidak mengenal kompromi: pertahankan blokade militer dan tetap tutup total akses pelayaran internasional di sepanjang perairan Selat Hormuz hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Langkah eskalatif yang diambil oleh Iran ini sontak memicu gelombang kepanikan di tingkat global. Mojtaba Khamenei, putra kedua dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, selama bertahun-tahun dikenal sebagai sosok misterius yang memiliki cengkeraman kekuasaan yang sangat masif di dalam tubuh militer, badan intelijen, maupun sayap radikal pemerintahan Teheran. Keputusannya untuk mengambil alih komando krisis secara langsung dan memerintahkan penutupan selat strategis ini semakin memperkuat analisis para pakar intelijen Barat bahwa dirinya kini telah memegang kendali penuh atas kebijakan pertahanan proaktif dan keamanan luar negeri Iran, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai penerus takhta kepemimpinan tertinggi.
Bagi perekonomian global, penutupan Selat Hormuz bukanlah sekadar gertakan politik biasa, melainkan sebuah skenario kiamat ekonomi. Selat sempit berbentuk huruf V yang memisahkan daratan Iran dan Semenanjung Arab (Oman dan Uni Emirat Arab) ini adalah “urat nadi” paling krusial bagi perdagangan energi dunia. Titik sumbat (chokepoint) ini menjadi satu-satunya rute pelayaran bagi lalu lintas kapal tanker raksasa yang membawa lebih dari 20 hingga 30 persen pasokan minyak mentah dunia setiap harinya, serta hampir sepertiga pasokan gas alam cair (LNG) global.
Dampak dari perintah tegas Mojtaba Khamenei ini langsung terasa bak hantaman badai di pasar keuangan dan komoditas internasional pada hari perdagangan Jumat, 13 Maret 2026. Harga minyak mentah berjangka Brent dan West Texas Intermediate (WTI) dilaporkan meroket tajam tak terkendali, menembus angka psikologis tertinggi dalam dekade terakhir. Para analis dari Wall Street memproyeksikan bahwa jika blokade ini dipertahankan selama lebih dari dua pekan, harga minyak dunia dapat dengan mudah menyentuh angka yang akan melumpuhkan industri manufaktur dan transportasi, memicu hiperinflasi yang memaksa bank-bank sentral dunia kembali menaikkan suku bunga secara drastis.
Reaksi keras dan nada ancaman langsung berdatangan dari komunitas internasional yang merasa dirugikan. Amerika Serikat, yang memiliki kepentingan vital di kawasan tersebut, bersama sekutu-sekutunya di Uni Eropa, mengecam keras tindakan blokade sepihak ini. Gedung Putih merilis pernyataan resmi yang menyebut langkah Iran sebagai “pelanggaran mencolok terhadap hukum maritim internasional dan kebebasan navigasi yang tidak dapat ditoleransi.” Menanggapi eskalasi ini, Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat yang bermarkas di Bahrain dikabarkan telah disiagakan dalam status tempur tingkat tinggi (Defcon), dan mulai mengerahkan gugus tugas kapal induknya mendekati perairan Teluk Persia guna mengamankan jalur pelayaran.
Dari sisi domestik Iran, narasi yang dibangun oleh stasiun televisi pemerintah dan media-media pro-rezim menyebutkan bahwa penutupan Selat Hormuz adalah bentuk kedaulatan mutlak negara. Langkah radikal ini diklaim sebagai bentuk perlawanan sah, langkah balasan (retaliation), dan alat tawar politik paling ampuh Teheran terhadap rentetan sanksi ekonomi yang dinilai mencekik, serta respons atas provokasi militer dan manuver intelijen Barat di wilayah kedaulatan mereka. Instruksi Mojtaba Khamenei ini mendapat dukungan penuh dari faksi garis keras di parlemen Iran yang menganggap sudah saatnya negara tersebut menunjukkan taring hegemoni militernya di kawasan teluk.
Kini, nasib perekonomian dunia dan perdamaian di Timur Tengah tengah berada di ujung tanduk. Para diplomat dari negara-negara penengah seperti Oman dan Qatar dilaporkan sedang bekerja keras di balik layar untuk membuka jalur komunikasi darurat guna mencegah terjadinya bentrokan militer terbuka antara kapal perang Iran dan armada koalisi pimpinan Amerika Serikat. Publik dunia hanya bisa menahan napas, menanti apakah blokade Selat Hormuz ini akan berujung pada meja perundingan, atau justru memantik percikan Perang Teluk berskala besar yang baru.

