Eskalasi Perang Memanas: Kapal Selam AS Tenggelamkan Kapal Perang Iran dengan Torpedo di Samudra Hindia, 87 Pelaut Tewas
Hot.co.id – Ketegangan militer di Timur Tengah kini meluas dan memanaskan perairan Samudra Hindia. Dalam sebuah eskalasi konflik maritim yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa dekade terakhir, sebuah kapal selam bertenaga nuklir milik Amerika Serikat menembakkan torpedo dan menenggelamkan kapal perang angkatan laut Iran, IRIS Dena, di lepas pantai selatan Sri Lanka pada Rabu (4/3/2026) dini hari waktu setempat. Insiden mematikan ini menewaskan puluhan pelaut dan menandai babak baru yang sangat destruktif dalam peperangan antara AS-Israel melawan Iran.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, mengonfirmasi operasi militer tersebut secara terbuka dalam jumpa pers di Pentagon. Hegseth menyatakan bahwa militer AS dengan sengaja menargetkan fregat Iran tersebut menggunakan torpedo kelas berat Mark 48.
“Sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman di perairan internasional. Sebaliknya, kapal itu ditenggelamkan oleh sebuah torpedo. Kematian yang sunyi,” ujar Hegseth dengan tegas. Ia juga menambahkan bahwa ini adalah salah satu operasi militer langka di mana kapal selam AS sukses menenggelamkan kapal musuh dengan torpedo sejak Perang Dunia II. Serangan ini merupakan bagian dari “Operation Epic Fury”, kampanye militer intensif pemerintahan Presiden Donald Trump yang bertujuan melumpuhkan kekuatan militer dan angkatan laut Teheran.
Berdasarkan rekaman periskop hitam-putih yang dirilis oleh Departemen Pertahanan AS, terlihat jelas detik-detik mengerikan saat torpedo tersebut menghantam bagian bawah buritan kapal IRIS Dena. Ledakan air dahsyat (geyser) seketika mengangkat lambung belakang kapal ke udara sebelum akhirnya patah dan tenggelam ke dasar laut secara cepat.
Kapal fregat kelas Moudge yang menjadi salah satu kapal perang kebanggaan dan armada terbaru Iran tersebut diketahui tengah dalam perjalanan pulang menuju perairan Timur Tengah. Ironisnya, IRIS Dena baru saja berpartisipasi dalam misi diplomasi maritim dan latihan militer gabungan internasional MILAN-2026 yang diselenggarakan oleh Angkatan Laut India di Teluk Benggala, Visakhapatnam, pada akhir Februari lalu.
Tragedi di laut lepas ini memakan korban jiwa yang sangat besar. Menteri Luar Negeri Sri Lanka, Vijitha Herath, mengonfirmasi bahwa penjaga pantai Sri Lanka menerima panggilan darurat (distress call) dari kapal Iran tersebut sekitar pukul 05.08 pagi. Pemerintah Sri Lanka yang bersikap netral dalam konflik ini langsung mengerahkan kapal angkatan laut dan pesawat evakuasi untuk operasi pencarian dan penyelamatan di lokasi kejadian, yang berjarak sekitar 40 mil laut di selatan kota pelabuhan Galle.
Hingga berita ini diturunkan pada Kamis (5/3/2026), otoritas Sri Lanka melaporkan telah mengevakuasi 87 jenazah pelaut Iran dari perairan tersebut. Tim penyelamat juga berhasil menyelamatkan 32 awak kapal yang kini tengah mendapat perawatan darurat karena luka berat di Rumah Sakit Karapitiya, Galle. Mengingat kapal tersebut diperkirakan membawa sekitar 180 kru, lebih dari 60 pelaut lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang dan pencarian terus dilanjutkan di tengah tumpahan minyak yang tersisa dari bangkai kapal.
Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan Israel beberapa hari sebelumnya dinilai telah menjadi katalis utama meletusnya eskalasi brutal ini. Kematian tokoh paling krusial di Republik Islam tersebut langsung dibalas dengan rentetan serangan Iran ke berbagai fasilitas strategis yang terafiliasi dengan AS dan Israel di Timur Tengah. Menghadapi gempuran tersebut, AS tampaknya memutuskan untuk mengambil langkah ofensif langsung menyasar tulang punggung militer Iran secara terukur dan mematikan.
Menanggapi kehancuran salah satu aset laut utamanya, pemerintah Iran meradang. Teheran mengecam keras serangan brutal di perairan internasional tersebut dan memberikan peringatan keras bahwa Washington akan “sangat menyesali” tindakan mematikan ini. Insiden ini diyakini akan memicu gelombang serangan balasan baru dari Iran dan sekutu-sekutunya ke berbagai pangkalan militer AS di kawasan.
Sejumlah mantan pejabat militer dan pakar hukum internasional juga menyuarakan kekhawatiran atas legalitas serangan ini. Mengingat IRIS Dena sedang berlayar pulang dari misi latihan dan tidak sedang dalam posisi bertempur (open hostilities) di Samudra Hindia, serangan preemptive AS ini dinilai bisa dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap hukum maritim internasional, sekaligus menciptakan preseden berbahaya bagi keamanan pelayaran komersial maupun militer di seluruh dunia.
Dampak dari peperangan yang semakin tak terkendali ini juga langsung terasa di pasar global. Rute pelayaran di Samudra Hindia kini berada dalam status siaga tertinggi, dan harga komoditas global dilaporkan mulai fluktuatif seiring dengan meluasnya medan pertempuran. Dengan hancurnya IRIS Dena, dunia kini menahan napas menyaksikan potensi perang terbuka berskala besar yang terus merangsek keluar dari batas teritorial Timur Tengah.

