Syahdunya Ramadan Berhias ‘Blood Moon’: Kemegahan Gerhana Bulan Total Sapa Langit Malam Nusantara
HOT.co.id – Malam ini, Selasa, 3 Maret 2026, masyarakat Indonesia di berbagai penjuru daerah disuguhkan oleh sebuah mahakarya alam yang luar biasa menakjubkan. Tepat di tengah nuansa bulan suci Ramadan yang penuh keberkahan, langit malam Nusantara dihiasi oleh fenomena langka Gerhana Bulan Total (GBT) atau yang kerap dijuluki sebagai Blood Moon. Fenomena astronomi memukau ini tidak hanya menjadi magnet bagi para astronom dan fotografer amatir, tetapi juga membawa resonansi spiritual yang mendalam bagi jutaan umat Muslim di Tanah Air yang tengah menjalankan ibadah puasa. Momen langka di mana rona kemerahan sang rembulan berpadu dengan gema selawat dari berbagai surau dan masjid menciptakan atmosfer malam yang begitu magis dan tak terlupakan.
Berdasarkan data pantauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), proses terjadinya gerhana bulan ini sudah mulai tampak sejak sore hari, perlahan merangkak menutupi piringan bulan. Puncak dari Gerhana Bulan Total ini terjadi pada pukul 18.33 WIB, sebuah waktu yang sangat kebetulan beririsan langsung dengan momen berbuka puasa bagi masyarakat di Waktu Indonesia Barat (WIB), serta waktu ibadah Salat Isya dan Tarawih di wilayah Waktu Indonesia Tengah (WITA) dan Timur (WIT). Saat puncak gerhana terjadi, bulan tidak sepenuhnya gelap gulita, melainkan memancarkan cahaya merah tembaga yang eksotis. Warna merah darah ini bersumber dari pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi (efek Rayleigh scattering), yang menyaring spektrum cahaya biru dan hanya meloloskan gelombang cahaya merah ke arah permukaan bulan.
Antusiasme masyarakat untuk menyaksikan fenomena ini terpantau sangat tinggi di berbagai daerah. Di wilayah Jawa Timur, misalnya, dari kawasan pesisir hingga dataran tinggi yang sejuk seperti Malang, banyak warga yang menyempatkan diri keluar rumah atau berkumpul di area terbuka usai berbuka puasa demi mengabadikan momen Blood Moon ini dengan kamera ponsel cerdas mereka. Kondisi langit di beberapa wilayah yang cerah berawan sangat mendukung observasi visual dengan mata telanjang. Tidak sedikit pula komunitas astronomi lokal yang menggelar acara nonton bareng (nobar) gerhana dengan menyediakan teleskop portabel bagi masyarakat umum, sembari memberikan edukasi mengenai pergerakan tata surya.
Selain menjadi tontonan sains yang edukatif, Gerhana Bulan Total malam ini juga menjadi momentum peningkatan spiritualitas. Jauh-jauh hari sebelum peristiwa ini terjadi, Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia bersama Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Muhammadiyah telah mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh umat Islam untuk mendirikan Salat Khusuf (salat sunah gerhana bulan). Menindaklanjuti imbauan tersebut, masjid-masjid agung di berbagai kota, hingga musala di tingkat rukun warga, menggemakan takbir dan menggelar Salat Khusuf secara berjamaah. Khotbah yang disampaikan oleh para ulama usai pelaksanaan salat mayoritas menyoroti kebesaran Tuhan dalam mengatur alam semesta, serta mengingatkan manusia akan kelemahan dan pentingnya menjaga kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta.
Namun demikian, di balik pesona keindahannya, BMKG juga telah merilis peringatan dini yang sangat krusial bagi masyarakat yang bermukim di pesisir pantai. Sebagaimana hukum fisika dasar, konfigurasi sejajarnya posisi Matahari, Bumi, dan Bulan secara sempurna pada fase gerhana total ini menghasilkan gaya tarik gravitasi yang maksimal terhadap lautan di bumi. Hal ini memicu fenomena pasang air laut maksimum yang berpotensi menyebabkan banjir pesisir atau yang lebih dikenal dengan sebutan banjir rob.
Peringatan siaga banjir rob ini diinstruksikan secara khusus untuk sejumlah pelabuhan dan pesisir utara Jawa, sebagian wilayah pesisir Kalimantan seperti Balikpapan, hingga beberapa titik rawan di Sumatera. Oleh karena itu, warga pesisir dan para nelayan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra malam ini, mengamankan barang-barang berharga, dan menunda aktivitas pelayaran skala kecil hingga kondisi pasang surut air laut kembali normal dan aman. Secara keseluruhan, Gerhana Bulan Total di bulan Ramadan 2026 ini akan tercatat dalam memori kolektif bangsa sebagai malam di mana keindahan sains, kewaspadaan bencana, dan kekhusyukan ibadah melebur menjadi satu kesatuan yang harmoni di bawah langit Indonesia.

